Sabtu, 14 Agustus 2010

Pemikiran Karl Popper Dan Thomas Kuhn Tentang "Science" Apa Persamaan dan Perbedaan ?

Tulisan penulis berikut ini dipaparkan sebagai “hikmah akademis” berkenaan dengan Ujian tertulis dari Prof Liek Wilardjo di program S3 KPK UNDIP -UNTAN yang gagal terus sampai dua kali dan dianggap oleh Prof Liek nilainya “jeblok” persoalannya adalah tak tepat menjawab dimana perbedaan Karl Popper dan Thomas Kuhn, siapakah sebenarnya yang lebih rasional diantara keduanya ? Bagaimana pandangan keduanya tentang perkembangan ilmu pengetahuan dari tataran Filsafat Ilmu Pengetahuan ? dan bagaimana kritik Thomas Kuhn terhadap Paradigma Ilmu ? serta bagaimana menjelaskan reorientasi “pemberontakan” terhadap Paradigma-Paradigma Penelitian? Akhirnya menjelaskan ragam teori dalam Ilmu Pengetahuan ? analogikan dengan kondisi Indonesia saat ini. Ketidak bisaan penulis menjawab ujian tertulis filsafat ilmu secara benar dan tepat, mungkin penulis terlalu banyak berkontemplasi dan membayangkan ketebalan hasil penelitian yang terabaikan oleh negara dari sufi-sufi akademis yang “prihatin” keadaan Indonesia, biarlah sunatullah yang bekerja, karena berpikir benar itu baik dan berpikir tepat itu lebih baik, tetapi jika berpikir benar dan tepat tak bersumber dari Yang Maha Benar dan Yang Maha Tepat janjinya, maka belumlah menjadi “gelas kosong” didalam dirinya, karena dirinya sedang merasa telah menjadi “gelas yang penuh”. Penulis hanyalah sebuah “gelas kosong” yang perlu diisi terus tetapi dengan air suci yang berenergi ilahiah, karena air itu diambil setelah berthawaf meneguk ilmu-NYA dari sipemilik ilmu, yaitu Sang Pencipta manusia, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain walaupun setengah “Alif” yang terbagikan, bukan yang berkiblat hanya kepada manusia apapun gelar yang disandang seorang manusia dari manusia lain tetapi yang mulia disisi-Nya adalah yang paling bertaqwa dan terus menerus menjemput Cinta-NYA, jika sudah dicabut Cinta-Nya dan Kasih SayangNYA oleh Sang Pencipta, maka gelar apapun yang disandang tak bermanfaat dihadapanNYA, Dialah Sumber Kebenaran sejati, sudahkah kita out of the box dari belenggu literatur yang diciptakan manusia sedangkan diujung sana ada sumber literatur yang diberikan kepada Manusia dari Sang Pencipta Alam semesta, kita hanya menggali apa yang diajarkan oleh Allah kepada kakek kita Adam, jika kita belajar dimuka bumi menggali ilmu yang diajarkan manusia sesungguhnya hanya mengumpulkan, mengingat kembali yang pernah Allah ajarkan kepada Adam di Surga, karena Allahlah yang mengajarkan nama-nama yang sekarang kita sebut kebenaran, keadilan dst. Dan seratus tahun yang lalu kita tak ada di dunia ini dan seratus tahun yang akan datang belum tentu ada didunia tentunya diakhir tidur yang panjang kelak tidak mungkin kita tidur ditumpukan literatur hasil karya manusia tetapi kita tidur ditumpukan safaat keilmuan yang bermanfaat bagi manusia lain yang digali dari maha sumber-Nya ketika kita menjumpai sang pemilik segala Ilmu Pengetahuan, maka kitapun dikenang karena jejak keilmuan yang terbagikan kepada sesamanya sehingga doa maupun safaatnya pun mengalir kepada kita setelah tiada di dunia. Alangkah indahnya jika manusia menelusuri dan berbicara bertindak dengan bahasa ruh (Korintus 14 ayat 1 s/d 19 dan Surah Ar Rum 30 ayat 30 dan Surah Al Hajj 22 ayat 46)
Atas dasar "hikmah akademis" itulah penulis menelusuri jejak serpihan pandangan filsafat ilmu Karl Popper dan Thomas Kuhn dalam tulisan ini.

A. Filsafat Ilmu Pengetahuan
Sebagai sebuah obyek yang terus mengalami perkembangan, Filsafat Ilmu Pengetahuan yang kita kenal sekarang memiliki sejarahnya sendiri, yang didalamnya memperlihatkan adanya perkembangan pemikiran yang sangat dinamis. C.V Van Peursen, Kenneth Gallagher , dan C.Verhaak dan R Haryono Imam serta Soerjanto Poespowardojo mengakui adanya tahap-tahap dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan setiap tahap memiliki aliran atau kerangka berpikirnya sendiri, yang pada umumnya merupakan koreksi dan atau penyempurnaan dari tahap sebelumnya. Secara garis besar dan kronologis, perkembangan aliran dalam filsafat ilmu pengetahuan dapat dibagi kedalam empat aliran, yaitu:
1. Rasionalisme2. Empirisme dan Positivisme3. Rasionalisme Kritis4. Kontruktivisme
Pandangan aliran rasionalisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan sering dipertautkan dengan akal. Dalam arti sempit, rasionalisme berarti anggapan mengenai teori pengetahuan yang menekankan akal dan atau ratio, untuk membentuk pengetahuan.
Ini berarti bahwa sumbangan akal lebih besar dari pada sumbangan sumbangan indera. Mengenai ilmu diketengahkan oleh rasionalisme bahwa mustahillah membentuk ilmu hanya berdasarkan fakta, data empiris, atau pengamatan.
Berbeda dengan rasionalisme, aliran empirisme memberi kelonggaran pada peranan data kenyataan untuk mengembangkan bahkan mengubah struktur ilmu pengetahuan. Maka empirisme dalam filsafat ilmu dapat lebih mengindahkan keharusan selalu mengubah dan mencocokan sistem ilmu dengan data empiris. Dalam membangun teori, empirisme memiliki siklus yang selalu dimulai dari observasi, kemudian melahirkan hukum empiris, selanjutnya dibangun teori. Aliran empirisme berpendapat bahwa induksi sangat penting, karena jalan pikirannya berangkat dari yang diketahui menuju ke yang tidak diketahui.
Karena ilmu pengetahuan selalu ada unsur rasionalismenya, aliran empirisme mengalami kesulitan dalam kaidah-kaidah logika dan matematika.
Disinilah aliran positivisme muncul untuk mengatasi masalah tersebut. Data observasi yang diperoleh dapat digunakan untuk ”menghitung”, atau melakukan penjabaran logis dan deduksi, sebagaimana yang terjadi pada aliran rasionalisme.
Dengan demikian, empirisme dan positivisme memberikan kelonggaran lebih besar kepada masukan dari empiris dalam membangun ilmu pengetahuan
Seperti terlihat pada penjelasan di atas, aliran rasionalisme dan empirisme termasuk positivisme merupakan dua aliran yang bertentangan. Rasionalisme kritis berupaya menghubungkan unsur rasional dan empiris dalam pengetahuan ilmiah. Dengan demikian ilmu pengetahuan yang dibangun dari proses induktif, harus selalu terbuka terhadap kritik. Ilmu pengetahuan tersebut terbuka upaya penyangkalan/pembuktian salah (falsifikasi) yang secara terus menerus sehingga dapat lebih dikokohkan (corroborated).
Di samping itu, titik suatu ilmu terletak pada melihat situasi permasalahan. Lewat proses trial dan error dan error eliminitian, ilmu yang dikembangkan atas permasalahan tadi, dapat mendekatan kebenaran
Terakhir adalah aliran konstruktivisme yang menekankan pada sifat kontekstual ilmu pengetahuan, yaitu pentingnya seluruh konteks demi terjadinya suatu sistem ilmiah. Konteks dan ilmu dapat saling mempengaruhi. Apabila ilmu bertentangan dengan konteks atu pengalaman, maka tidak berarti bahwa ilmu tersebut runtuh. Dalam hal terjadi pertentangan dan ketidaksesuasian tersebut, diperlukan terjemahan untuk memperbaharui sistem ilmu tadi.

B. Riwayat Hidup Karl Raimund Popper
Karl Raimund Popper lahir di Kota Wina pada tahun 1902 , dan meninggal pada hari Minggu pagi tanggal 17 September 1994 di London sebagai akibat dari komplikasi penyakit pneumonia dan gagal ginjal .
Dalam aliran-aliran filsafat di atas, Popper termasuk aliran rasionalisme kritis, bahkan merupakan perintis aliran tersebut. Meskipun berkenalan dengan beberapa tokoh dalam lingkaran Wina, namun ia tidak pernah menjadi anggota lingkaran Wina. Bahkan ia jengkel, kalau pandangan-pandangannya dikaitkan dengan positivisme logis.
Dari karya-karyanya, terlihat kalau Popper sangat tidak menyukai pandangan-pandangan yang tertutup, tidak terbuka terhadap kritikan-kritikan. Baginya, pandangan tertutup tersebut tidak lebih dari sebuah ideologi, yang diperjuangkan secara fanatik. Kebenaran atau ilmu yang mendekati kebenaran hanya dapat diperoleh apabila ilmu itu terbuka terhadap usaha-usaha kritis (falsifikasi).
Buku-Buku yang pernah ditulis semasa hidupnya antara lain adalah:1. The Logic Of Scientific Discovery (1959)2. The Open Society and Its Enemies I dan II (1945)3. The Poverty of Historism;4. Conjectures and Refutation, The Growth of Scientific Knowledge. An Evolutionary Approach (1963);5. The Philosiphy of Karl Popper (1974);6. Unended Quest7. The Self and Its Brain.

C. Positivisme Logis
Positivisme logis adalah aliran filsafat ilmu yang dikritisi dan ingin disempurnakan oleh Karl Raimund Popper dalam aliran filsafatnya yang disebut rasionalisme kritis. Dalam rasionalisme kritis ini, terdapat kritik induktivisme dan falsifikasi yang menjadi topic utama tulisan ini. Oleh karena itu, untuk memahami topik utama tersebut, terlebih dahulu perlu dibahas positivisme logis.
Keberatan pada aliran rasionalisme yang menganggap bahwa kebenaran hanya dapat diperoleh melalui rasio dan akal budi manusia, menjadi salah satu memicu munculnya aliran empirisme. Klimaksnya terjadi pada abad ke 17 yang jalannya telah dipermulus oleh Renaissance, yang mendorong terwujudnya revolusi ilmiah. Pada masa tersebut, cara berpikir berubah secara ekstrim dari melihat dunia yang metafisik ke melihat dunia yang mekanistis. Di sinilah aliran empiris muncul, dan kemudian pada abad ke 18 positivisme logis mulai berkembang. Dunia atau fenomena sudah mulai dihitung, dianalisis secara matematis, dan mekanistis.
Positivisme logis dikembangkan oleh tokoh-tokoh filsafat yang tergabung dalam Lingkaran Wina, yang antara lain adalah: Moritz Sclick (1882 – 1936), Hans Hahn (1880 – 1934), Otto Nuerach (1882 – 1945), Hans Reichenbach (1891 – 1955)
Beberapa pandangan positivisme logis dapat diuraikan antara lain sebagai berikut:
1. Hanya ada satu sumber pengalaman, yaitu pengalaman. Yang dimaksud ialah mengenal data-data inderawi.
2. Berangkat dari pengalaman, dikembangkan metode induksi dalam menyusun suatu ilmu penegetahuan melalui siklus empiris, yaitu observasi, hukum-hukum empiris, teori, dan hipotesa.
3. Selain pengalaman, diakui pula adanya dalil-dalil logika dan matematika yang tidak dihasilkan lewat pengalaman. Dalil-dalil itu hanya memuat serentetan tautologi – subjek-predikat- saja, yang berguna untuk mengolah data pengalaman (inderawi) menjadi satu keseluruhan yang meliputi segala data.
4. Memiliki minat besar untuk mencari garis batas atau damarkasi antara pernyataan yang bermakna (meanigful) dan yang tidak bermakna (meaningless). Oleh karena itu, filsafat tradisional haruslah ditolak karena ungkapan-ungkapannya melampaui pengalaman.
5. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai logika. Konsekuensinya, Ilmu harus disusun berdasarkan logika formal, sebagaimana halnya yang dilakukan Aristoteles.
6. Tidak ada konteks penemuan (context of discovery) . Yang ada hanya konteks pengujian dan pembenaran (context of justification).

D. Induktivisme dan Falsifikasi
Pada Bagian ini diuraikan pandangan-pandangan Karl Raimund Popper dalam aliran rasionalisme kritis, termasuk induktivisme dan falsifikasi.
Pemikiran Karl Raimund Popper dalam aliran rasionalisme kritis berangkat dari ketidaksetujuannya terhadap beberapa gagasan dasar Lingkaran Wina yang beraliran positivisme logis. Terutama ia sangat menentang ungkapan yang disebut bermakna (meaningful) dari yang tidak bermakna (meaningless) berdasarkan kriteria dapat tidaknya dibenarkan secara empiris. Menurutnya, karena empiris merupakan peristiwa yang berkelanjutan, maka ungkapan yang dulunya tergolong meaningless, bisa jadi sangat meaningful nantinya. Artinya, sangat berbahaya apabila suatu ungkapan apalagi teori dibuat tertutup dengan menyatakannya meaningless, pada perkembangan fenomena termasuk pegalaman atau empiris juga terus berlanjut.
Dengan ketidaksetujuannya terhadap gagasan dasar Lingkaran Wina tersebut, Popper kemudian kembali menghidupkan aliran rasionalisme, yakni aliran yang mendasarkan penemuan ilmunya pada ratio atau akal budi manusia. Bedanya dengan aliran resionalisme yang sesungguhnya bahwa Popper mengkondisikan ilmu pengetahuan masih terbuka terhadap kritik, masih dapat dibuktikan salah (falsifikasi). Di sinilah letak damarkasi ilmu pengetahuan. Inilah yang menjadi dasar mengapa aliran yang dipelopori oleh Popper ini disebut rasionalisme kritis.
Ketidaksetujuannya terhadap gagasan dan cara kerja positivisme logis, mendorong Popper mengemukan beberapa prinsip dalam menerangkan esensi dari rasionalisme kritis. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah Kritik terhadap Induktivisme, Falsifikasi, Trial and Error dan Corroborated. Masing-masing prinsip ini akan diuraikan sebagai berikut:
E. Kritik Terhadap Induktivisme
Ilmu pengetahuan empiris yang dihasilkan oleh cara kerja positivisme logis menggunakan cara berpikir induktif. Cara berpikir seperti ini berangkat dari ’singular statement’ sebagai hasil dari observasi pengalaman, menuju ’universal statement’ yang berupa hipotesis atau teori.
Metode induktif ini secara jelas dapat dilihat pada siklus empirisme sebagaimana terlihat pada paparan berikut:
Menurut klaim dari positivisme logis, metode induktif merupakan logika dalam menemukan ilmu pengetahuan (the logic of scientific discovery). Dalam kenyataannya, siklus positivisme logis dengan metode induktifnya seperti di atas telah berhasil menambah hasanah ilmu pengetahuan.
Popper melihat adanya kelemahan dalam metode induktif di atas. Menurut argumentasinya, metode induktif tidak dapat dipergunakan untuk menyusun universal statement, karena hakekatnya yang selalu berangkat dari singular statement hasil observasi pengalaman empiris.
Secara lengkap Popper mengatakan: ”Now it is far from obvious, from a logical point of view, that we are justified in inferring universal statement from singular ones, no matter how numeours; for any conclusion drawn in this way may always turn out to be false: no matter how many instances of white swans we may have observed, this does not justify the conclusions that all swans are white”.
Kesimpulannya metode induktif tidak dapat disebut logika dalam mencari kebenaran. Dengan demikian, logika kebenaran adalah logika deduktif, yang dulu dipergunakan oleh ilmuwan lama dari aliran rasionalis.

F. Falsifikasi
Pernyataan dan teori yang diperoleh melalui empiris atau positivisme logis pada akhirnya mutlak harus disimpulkan apakah pernyataan dan teori tersebut benar atau salah. Artinya, pernyataan dan teori tersebut harus memiliki kesimpulan akhir (conclusively decidable atau conclusive verification). Kalau pernyataan dan teori tersebut tidak dapat mencapai tahap ini, maka keduanya tidak berarti sama sekali.
Untuk mencapai kondisi tersebut, pernyataan dan teori perlu ditest melalui bukti empiris. Kalau hasil testnya menunjukkan bahwa pernyataan dan teori tersebut benar, maka disebut verifiability. Sebaliknya, kalau hasil test empiris tersebut membuktikan bahwa keduanya salah, maka disebut falsiability. Upaya/test untuk membuktikannhya salah disebut falsifikasi. Dengan demikian, sistem test dalam ilmu pengetahuan tidak selalu harus berarti positif (membuktikan benar) tetapi juga harus berarti negative (membuktikan salah).
Menurut Popper, ciri khas ilmu pengetahuan adalah falsifiable, artinya harus dapat dibuktikan salah melalui proses falsifikasi. Dengan falsifikasi, ilmu pengetahuan mengalami prosess pengurangan kesalahan (error elimination). Proses falsifikasi inilah yang mengantar ilmu pengetahuan tersebut mendekati kebenaran, namun tetap memiliki ciri falsifiable.
Dengan cara falsifikasilah, hukum-hukum ilmiah berlaku: bahwa bukannya dapat dibenarkan melainkan dapat dibuktikan salah. Dengan cara yang sama, ilmu pengetahuan berkembang maju. Bila suatu hipotesa telah dibuktikan salah, maka hipotesa itu ditinggalkan dan diganti dengan hipotesa baru.
Kemungkinan lain adalah bahwa hanya salah satu unsur hipotesa yang dibuktikan salah, sedangkan inti hipotesa lain dapat dipertahankan, maka unsur tadi ditinggalkan dan digantikan dengan unsur baru. Dengan demikian, hipotesa terus disempurnakan, walaupun tetap terbuka untuk dibuktikan salah.
Popper mengutuk sistem ilmiah yang bersifat tertutup atau definitif, yang menutup dilakukannya falsifikasi. Menurutnya, sistem seperti ini akan terus membuat ilmu pengetahuan merosot menjadi ideology. Hal ini juga berlaku dalam Negara.
Inilah yang melatarbelakangi tulisan Popper yang berjudul Open Society and Its Enemies. Sampai sekarang konsep ini banyak mengilhami berdirinya pendukung open society. Di Jepang, terbentuk open society forum yang dapat diakses dengan website dalam www.open society forum. Jp

G. Corroboration
Menurut Popper, teori tidak dapat diverifikasi, tetapi dapat dikoroborasi. Hal ini disebabkan karena teori tidak dapat dikatakan benar atau salah, tetapi mungkin benar atau mungkin salah. Teori kemungkinan kemudian disebut logika kemungkinan (probability logic).
Di awalinya sistem ilmu yang terbuka, maka proses falsifikasi terhadap suatu teori atau hipotesa dapat terus dilakukan. Apabila suatu hipotesis tahan uji atau belum dapat dibuktikan salah, maka hipotesis tersebut semakin dikukuhkan atau corroborated.
Untuk mencapai kondisi corroborated, suatu hipotesa perlu diperhadapkan pada serangkaian fakta yang tak terhingga, dengan rentetan verifikasi yang tak terhingga. Dengan demikian, hipotesa tersebut memiliki kualitas koroborasi yang tinggi (how far it has been corroborated).
Rasionalisme dan empiris (positivisme logis) yang merupakan dua aliran yang berada pada dua titik ekstrim diupayakan untuk dipertemukan dalam aliran rasionalisme kritis yang dipelopori oleh Karl Raimund Popper.
Dalam pandangannya, dia melancarkan kritik terhadap logika induktif yang dipergunakan oleh aliran empirisme dan positivisme logis, sebagai suatu logika yang tidak dapat mengantar pada teori atau general statement yang benar.
Sebaliknya, logika deduktif yang dipergunakan oleh aliran rasionalisme dijadikan sebagai logika yang valid dalam menghasilkan teori. Teori baik hasil logika induktif atau deduktif inilah yang kemudian difalsifikasi dan dikoroborasi, agar mendekati kebenaran, namun tetap terbuka.
Sebagai filsuf pertama yang mencoba mensintesakan kedua aliran yang berseberangan tersebut, mungkin logika atau cara Popper belum begitu sempurna, sehingga masih tetap terbuka. Inilah yang kemudian dilakukan oleh murid dan filsuf setelahnya seperti Imre Lakatos yang mencoba menyempurnakan sintesa kedua aliran yang berseberangan tersebut.

H. Pemikirannya : Asas Falsifiabilitas
Menurut Popper teori yang melatar belakangi fakta-fakta pengamatan adalah titik permulaan ilmu pengetahuan dan teori diciptakan manusia sebagai jawaban atas masalah pengetahuan tertentu berdasarkan rasionya sehingga teori tidak lain hanyalah pendugaan dan pengiraan dan tidak pernah benar secara mutlak sehingga perlu dilakukan pengujian yang secermat-cermatnya agar diketahuan ketidakbenarannya.
Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Dan Popper mengganti istilah verifikasi dengan falsifikasi.
Keterbukaan untuk diuji atau falsifiabilitas sebagai tolok ukur mempunyai implikasi bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang dan selalu dapat diperbaiki, dan pengetahuan yang tidak terbuka untuk diuji tidak ada harapan untuk berkembang, dan sifatnya biasanya dogmatis serta tidak dapat digolongkan sebagai pengetahuan ilmiah.
Adapun mengenai metode falsifiabilitas yang dikemukankan oleh Popper dapat ditunjukkan pada paparan sebagai berikut : Adapun Proses Pengembangan Pengetahuan Ilmiah menurut pandangan Popper menekankan bahwa pengalaman merupakan unsur yang paling menentukan dan pengalaman tidak mengenai sesuatu yang berdiri sendiri yang dapat dipakai sebagai tolok ukur atau batu uji mutlak buat pembuktian atau pembenaran suatu teori atau pernyataan, melainkan mengenai cara menguji, atau metode penelitian itu sendiri.
Jadi Popper mengatakan bahwa pengalaman sama dengan pengujian dan pengujian sama dengan metode penelitian. Popper juga mengungkapkan adanya tahap-tahap pengembangan pengetahuan ilmiah, yaitu:

Tahap 1, Penemuan masalah, ilmu pengetahuan mulai dari satu masalah yang bermula dari suatu penyimpangan, dan penyimpangan ini mengakibatkan orang terpaksa mempertanyakan keabsahan perkiraan itu dan ini merupakan masalah pengetahuan.

Tahap 2, Pembuatan Teori, langkah selanjutnya adalah merumuskan suatu Teori sebagai jawabannya yang merupakan hasil daya cipta pikiran manusia dan sifatnya percobaan atau terkaan. Teori sifatnya lebih abstrak dari masalah.

Tahap 3, Perumusan ramalan atau hipotesis, Teori selanjutnya digunakan untuk menurunkan ramalan atau hipotesis spesifik secara deduktif dan ini ditujukan kepada kenyataan empiris tertentu.

Tahap 4, Pengujian ramalan atau hipotesis, selanjutnya hipotesis diuji melalui pengamatan dan eksperimen tujuannya adalah mengumpulkan keterangan empiris dan menunjukkan ketidakbenarannya.

Tahap 5, Penilaian hasil, tujuan menilai benar tidaknya suatu teori oleh Popper dinamakan pernyataan dasar yang menggambarkan hasil pengujian. Pernyataan dasar ini memainkan peranan khusus yaitu pernyataan yang bertentangan dengan teori, dan ini semacam petunjuk ketidakbenaran potensial dari teori yang ada.
Dalam tahap ke 5 ini terdapat dua kemungkinan, pertama, teori ini diterima sehingga tidak berhasil ditunjukkan ketidakbenarannya dan untuk sementara teori ini dapat dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah sampai pada suatus aat dapat dirobohkan dengan menyusun suatu pengujian yang lebih cermat. Kemungkinan kedua, adalah teori ini ditolak sehingga terbukti bahwa ketidakbenarannya dan konsekuensinya muncul masalah baru dan harus segera dibentuk teori baru untuk mengatasinya.

Tahap 6, Pembuatan Teori Baru, dengan ditolaknya teori lama maka muncullah masalah baru yang membutuhkan teori baru untuk mengatsinya dan sifat dari teori ini tetap abstrak dan merupakan perkiraan atau dugaan sehingga merupakan suatu percobaan yang harus tetap diuji.
Dari penjelasan diatas bahwa untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah tentunya manusia tidak akan lepas dari kegiatan percobaan, kesalahan, terkaan dan penolakan yang silih berganti dan menurut Popper teori adalah unsur tetap dalam evolusi manusia dan teori pula adalah unsur rasio dan bagian dari pembawaan manusia.
Menurut Popper filsafat ilmu pengetahuan tidak lain merupakan suatu pengujian untuk memberikan alasan atau argumentasi untuk memilih teori satu dan membuang teori yang lain dan bukan mengenai pembenaran suatu teori.
Dan apa yang dapat dibuat tidak lain hanya mengadakan pilihan rasional dalam keputusan tentang suatu pernyataan. Filsafat ilmu pengetahuan hanya dapat berbicara tentang pengetahuan dalam arti kata produksi, sedangkan masalah bagaimana pengetahuan itu dihasilkan atau ditemukan tidak bisa menjadi pokok pembicaraan oleh karena meliputi “intuisi kreatif” yang tidak terbuka untuk ditelaah.
Apa yang dimaksud oleh Popper Rasionalisme Kritis adalah memberikan kebebasan pada manusia untuk berfikir penuh kepada manusia. Pikiran manusia merupakan percobaan atau terkaan belaka. Untuk memperbaiki nasibnya manusia dituntut mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan cara mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang tersimpan dalam pikirannya sendiri. Teori disatu pihak hanyalah alat untuk mencapai pikiran yang lain dan lebih tepat. Teori pada hakekatnya merupakan jalan menuju fakta-fakta baru. Tugas Ilmuwan menurut Popper adalah membebaskan manusia dari terkaan dan ia dituntut untuk berkarya dan menciptakan fakta baru sehingga dengan cara ini manusia dapat dibebaskan dari cengkraman kesalahan.

I.Kritik terhadap Popper
Kritik pertama disampaikan oleh Thomas Kuhn ia melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu dilihat dari masa lalu dan jika demikian maka apa yang diungkapkan oleh Popper tidak sesuai. Kunt mengungkapkan bahwa perkembang ilmu pengetahuan itu melalui 2 tahapan, yaitu tahap normal dan tahap revolusi.
Tahap normal ditandai dengan kesepahaman dikalangan ilmuwan tentang permasalahan yang pantas diteliti maupun syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya hasil penelitian dapat diterima. Dengan adanya kesepakatan ini maka metode yang digunakannya pun berdasarkan kesepakatan. Karena ada kesepakatan diantara ilmuwan maka setiap fakta baru yang muncul akan segera diketahui keberadaannya.
Namun ketika suatu fakta baru muncul dan dianggap menyimpang karena tidak dapat diteliti dengan menggunakan paradigma yang dianut, maka tidak segera mengganti paradigma yang lama dengan yang baru seperti apa yang dikatakan oleh Popper tetapi semua ilmuwan itu mencoba berdialog dan membicarakan hal ini guna menetapkan paradigma baru yang akan dipakai, dan jika pada perbincangan itu tidak bisa dijelaskan tentang fakta yang baru ini maka barulah keabsahan yang menyimpang mulai diakui dan timbul akan paradigma baru. Dan ini merupakan permulaan dari tahap revolusi.
Ciri khas dari tahap revolusi adalah tiadanya satu paradigma yang berperan sebagai titik orientasi yang tetap dan juga jatuhnya syarat-syarat yang dianggap harus dipenuhi untuk suatu penelitian, atau menurut Kunt dinamakan Anomali. Dengan demikian maka penjelasan untuk pengertian paradigma dan perkembangan ilmu pengetahuan yang menyertainya harus bersifat sosiologis.
Kritik kedua dilontarkan oleh Winch, ia mengatakan bahwa asumsi dasar Popper tentang tujuan ilmu pengetahuan tidaklah benar karena tujuan ilmu pengetahuan adalah mengembangkan ilmu pengetahuan berkesatuan (Einheitswissenschaft), dan menurut Winch antara ilmu alam dan ilmu sosial terdapat perbedaan yang mendasar sehingga kenyataan yang ingin dideskripsikan dan dijelaskan oleh ilmu sosial menunjukkan sifat lain dari ilmu alam sehingga tidak dapat dijelaskan dengan hukum-hukum abstrak dan universal.
Ilmu sosial umumnya bertugas memberikan interpretasi, yakni harus menerangkan “pengertian” konsep yang berkaitan dengan kelakuan manusia dan metode yang paling cocok untuk itu harus bersifat interpretatif dan berdasarkan apa yang lazim dinamakan “verstehen”. Asas filsafat ilmu pengetahuan yang mendasari ilmu alam tidak dapat dianggap berlaku untuk ilmu-ilmu sosial.

J. Pola Pandangan Karl Popper tentang Falsifikasi
Karl Popper berpendapat bahwa kita tidak dapat membuktikan bahwa suatu teori ilmu pengetahuan itu benar hanya dengan menambahkan bukti – bukti empiris yang baru. Sebaliknya, jika suatu bukti telah berhasil menunjukan kesalahan suatu teori, hal itu sudahlah cukup menunjukan bahwa teori tersebut tidak tepat. Kemudian, ia menunjukan bahwa suatu teori ilmiah tidak dapat selalu cocok dengan bukti – bukti yang ada. Bahkan, jika suatu teori mau dianggap sebagai teori ilmiah, teori tersebut justru haruslah dapat difalsifikasi. Tentu saja, didalam prakteknya, suatu teori tidak otomatis dinilai tidak memadai, hanya karena ada satu bukti yang berlawanan dengant teori tersebut. Mungkin saja, bukti bukti yang diajukan untuk memfalsifikasi suatu teori itulah yang justru tidak tepat.
Popper berpendapat bahwa suatu teori ilmu pengetahuan yang memadai adalah teori yang bersifat konsisten, koheren serta selalu dapat difalsifikasi. Tidak ada teori ilmiah yang selalu dapat cocok secara logis dengan bukti – bukti yang ada. Dengan kata lain, teori yang tidak dapat ditolak bukanlah teori ilmu pengetahuan. Sedangkan Thomas Khun, ia memahami tentang kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ia menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti – bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang bersifat gradual dan kumulatif.
Diketahui bahwa seluruh cara berpikir seorang ilmuwan pun selalu sudah dipengaruhi oleh paradigma tertentu, serta membutuhkan argumentasi yang sangat kuat dan signifikan untuk mengubah paradigma tersebut. Menurut Kuhn, suatu paradigma tidak selalu terbuka pada proses falsifikasi secara langsung. Dan karena suatu paradigma mempengaruhi proses penafsiran atas suatu bukti, maka bukti – bukti yang ada seringkali menyesuaikan dengan paradigma. Dibutuhkan lompatan yang penuh keberanian, jika seorang ilmuwan hendak mengganti paradigma yang telah dipakai sebelumnya.
Dapat disimpulkan dari Kuhn bahwa dengan ilmu pengetahuan dan proses perkembangannya, ilmu pengetahuan merupakan proses rutin pengumpulan data serta informasi, proses perluasan pengetahuan manusia yang ditandai dengan adanya pemikiran – pemikiran baru, dimana semua informasi yang telah didapat diperiksa kembali dan diletakkan dalam suatu perpektif yang baru.
Seperti yang dikatakan Popper sebelumnya bahwa proses perkembangan dan perubahan didalam paradigma ilmu pengetahuan berjalan lambat dan sangat bertahap. Dengan perkembangan di dalam pemikiran Kuhn, kita dapat melihat hal yang sebaliknya, yakni kemajuan di dalam ilmu pengetahuan adalah sebuah proses yang tak menentu dan tak teratur dengan perubahan tiba – tiba.
Dari beberapa uraian diatas bisa diambil kesimpulan bahwa kedua Filsuf tersebut mempunyai visi dan pandangan yang sama untuk menciptakan ilmu – ilmu baru namun perbedaannya terletak pada cara mendapatkan atau menciptakan ilmu – ilmu baru tersebut.
Jika kita setuju dengan pendapat Popper tentang proses falsifikasi, mungkin tidak akan banyak ditemukan perkembangan dan kemajuan di dalam ilmu pengetahuan. Suatu eksperimen ilmiah tidak pernah sepenuhnya benar, tetapi juga tidak pernah sepenuhnya ambigu, sehingga harus digantikan saat itu juga. Popper berpendapat bahwa suatu data yang berlawanan dengan teori yang ada dapat secara otomatis menyingkirkan teori yang ada tersebut. Namun dalam prakteknya, hal tersebut tidak terjadi. Jika ditemukan suatu data yang berlawanan dengan teori yang ada, ilmuwan biasanya akan mencari penjelasan terlebih dahulu tentang hal tersebut, seperti melihat kemungkinan bahwa eksperimen yang dilakukannya mungkin tidak tepat jelasnya disini dimungkinkan kekeliruan metode pada pola berpikirnya.

K. Metode Dalam Filsafat Ilmu
( a ) Reflektif Thinking
Reflectif thinking, adalah berfikir refleksi, yaitu mencermati apa yang sudah terjadi (reflecting). Dari terselesainya refleksi lalu disusun sebuah modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan dan pengamatan lagi, begitu seterusnya.
Adapun metodenya dalam tahapan – tahapan reflektif thinking.
Metode reflective thinking pada umumnya melalui beberapa tahapan yaitu:
Adanya kesadaran kepada sesuatu permasalahan, dimulainya apabila kita ingin tahu kepada sesuatu, atau apabila ada beberapa permasalahan yang pasti yang harus dipecahkan. Kesanggupan untuk menyatakan masalah secara jelas dan tepat sangatlah penting. permasalahan itu mulai berjalan apabila ada sesuatu hambatan atau kesulitan tanpa penjelasan masalah yang jelas, kita tidak akan tahu fakta apa yang harus dikumpulkan.
Data yang diperoleh dan relevan yang harus dikumpulkan untuk masalah yang sederhana, data mungkin mudah diperolehnya, namun untuk yang lainnya mungkin memerlukan waktu berbulan – bulan atau bertahun – tahun untuk memerlukan data yang diperlukan. Fakta yang ingin kita peroleh kadang-kadang kita temukan melalui penelitian seksama.
Data yang terorganisir yaitu yang telah disusun / dihitung, dianalisis dan diklasifikasi. Perlu kiranya diadakan perbandingan dan perbedaanya, dan diusahakan agar data itu mempunyai arti. Perhitungan, analisis, dan klasifikasi merupakan dasar metode yang ilmiah.
Formulasi hipotesis berbagai pemecahan masalah sementara mungkin akan terjadi kepada ilmuan pada waktu memproses, menganalisis dan mengklasifikasi. Saran – saran probabilitasnya untuk diuji. Tidak ada pembatas dalam jumlah hipotesis yang ia rencanakan. Sementara itu tidak ada peraturan yang kaku untuk memformulasikannya, sebuah hipotesis harus masuk di akal, harus menjadi sebuah deduksi untuk diuji, dan harus merupakan penuntun untuk penelitian berikutnya.
Deduksi harus berasal dari hipotesis dalam mengambil kesimpulan prinsip logika formal akan membantu atau perkiraan yang mungkin timbul sewaktu sipeneliti itu sedang menguji permasalahan atau pokok soal yang sedang ia kerjakan. Ia akan memilih dari sekumpulan data yang sedang ia kerjakan, suatu data yang sangat dekat kita. Matematik mungkin akan membantu kita untuk menemukan bentuk – bentuk perumusan dan hubungan – hubungannya, yang akan ditemukan dalam penelitian tersebut mempertimbangkan contoh mengungkapkan deduksi yang berasal dari hipotesis, seperti berikut: “seandainya A dan B itu benar, maka C pun harus benar”. Hal ini mengarah kepada langkah selanjutnya.
Pembuktian kebenaran verifikasi setelah ditentukan dengan cara analisis deduktif, apapun akan benar seandainya hipotesis itu benar, kemudian kita lihat apakah kondisi – kondisi lainnya sebagai suatu kenyataan itu benar pula. Seandainya itu menyatakan benar, maka hipotesis kita telah dibuktikan kebenarannya. Keenam langkah itu dapat dilaksanakan, di manapun reflective thinking ini dijalankan. Seandainya metode ilmiah ini dapat dimengerti secara keseluruhannya, maka ia dapat diterapkan kepada setiap lapangan pengalaman manusia. Mereka yang mengklaim bahwa metode ilmiah itu sangat terbatas sifatnya, biasanya mereka menerapkannya dalam bidang yang terbatas, dimana bahan penelitiaanya sangat obyektif dan mungkin hasilnya dinyatakan secara matematis atau dalam bentuk kuantitatif. Misalnya di mana seseorang bekerja dalam bidang ilmu alam menggunakan istilah ilmu pengetahuan dan metode ilmu pengetahuan yang dipergunakan dalam bidang ilmu sosial.

( b ) Receptive Thingking
Receptive Thingking adalah dapat menerima pengetahuan yang diperoleh / diterima sebagai fakta dengan sikap menerima apa adanya dan ini mulai dilakukan manusia pada zaman sejarah (500-600 tahun sebelum masehi). dimana manusia mempunyai kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Receptive thinking pada ilmuan yaitu siap secara moral dan mudah menerima gagasan/pendapat baru, seorang ilmuan dituntut untuk tidak picik dalam pandangannya, ia harus mau menerima dan memberi tempat pada orang lain utuk menguji validitas semua teori yang digunakan ( sumantri, 1985: 13).

( c) Inkuiri
Inkuiri adalah suatu metode untuk mengkaji kenyataan–kenyataan mengenai sesuatu, atau metode untuk menyelidiki dan mengumpulkan informasi mengenai sesuatu. Maka dengan pengertian yang sempit itu, sistem inquiry identik dengan suatu metode untuk meneliti sasaran tertentu.
Inquiry dalam arti luas adalah suatu komplek kegiatan keilmuan (berpikir ilmiah dan melakukan kegiatan–kegiatan ilmiah) yang bertujuan untuk mendapatkan sesuatu pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang dimaksud disini, ialah pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah.
Dengan demikian, sistem inkuiry bukan sekedar “metode” tetapi suatu “entity” atau wujud kebulatan, yang terdiri dari serangkaian aktivitas ilmiah bahkan metode – metode yang dipergunakan tiada lain adalah sarana penunjang bagi kegiatan inquiry itu sendiri. Hornby dalam dictionary-nya menunjukkan synonymous antara istilah inquiry dan investigation yang bermakna “penyalidikan”.apapun yang dipergunakan, namun yang ditonjolkan adalah kecenderungan manusia untuk meneliti sesuatu karena didorong oleh “keinginannya untuk mengetahui sesuatu itu”, dengan kata lain: ingin memperoleh pengetahuan yang benar mengenai sesuatu.
Menurut David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Trough Inquiry (1993) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak : inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiri berkaitan dengan aktivitas dan ketrampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (haury,1993)
Akhirnya apapun metodenya harus jelas paradigma yang dipergunakan tetapi apa sebenarnya paradigma itu ? Untuk menguraikan atau memaparkan pengertian paradigma dalam makalah ini berikut ini dibahas penelusuran tentang konsep pengertian yang berkaitan dengan terminology ilmiah dengan mengajukan pertanyaan apa sebenarnya yang dimaksud dengan paradigma ?
Scott mengartikan paradigma Kuhn sebagai :[1]
a. an achievement, a new, accepted way of solving a problem which then is used as a model of future work;
b. a set of shared values, the methods, standard and generalizations shared by those trained to carry on the scientific work modeled on that paradigm.
Pengertian yang dintroduksi oleh Scott ini mengandung beberapa aspek penekanan yaitu bahwa paradigma merupakan, pertama, sebagai pencapaian yang baru, yang kemudian diterima sebagai cara untuk memecahkan masalah, dan pola pemecahan masalah masa depan. Hal menarik dari pengertian ini adalah bahwa paradigma adalah cara pemecahan masalah yang seharusnya memiliki daya prediksi masa depan. Kedua, sebagai kesatuan nilai, metode, ukuran dan pandangan umum yang oleh kalangan ilmuwan tertentu digunakan sebagai cara kerja ilmiah pada paradigma itu.
Mastermann[2] mengemukakan tiga tipe pengertian paradigma Kuhn, yang menurutnya mengandung 21 pengertian. Pertama, Paradigma metafisik, kedua, paradigma sosiologi, ketiga, paradigma konstrak. Paradigma metafisik memerankan tiga fungsi, yaitu yang menunjuk pada suatu komunitas ilmuwan tertentu yang :
memusatkan perhatian pada sesuatu yang ada dan yang tidak ada;
memusatkan perhatian pada usaha penemuan tema sentral dari sesuatu yang ada;
berharap menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh ada.
Robert Friedrichs mencoba mengajukan rumusan pengertian sebagai berikut :[3] Paradigma adalah pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) yang semestinya dipelajarinya (a fundamental image a dicipline has of its subject matter). Dengan maksud lebih memperjelas lagi, George Ritzer mencoba mensintesiskan pengertian yang dikemukakan oleh Kuhn, Mastermann dan Friedrich, dengan pengertian paradigma sebagai berikut :[4]
Pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (diciplin)
Bertolak dari berbagai pengertian yang telah dikemukakan di atas, pengertian paradigma oleh mereka tampaknya diberatkan pada beberapa unsur, yaitu :
1. Sebagai pandangan mendasar sekelompok ilmuwan, tentang ;
2. objek ilmu pengetahuan yang seharusnya dipelajari oleh suatu displin; dan tentang;
3. metode kerja ilmiah yang digunakan untuk mempelajari objek itu
Berdasarkan pengertian diatas, paradigma adalah sinonim dengan guiding principle, basic point of view atau dasar perspektif ilmu, gugusan pikir, model, pola, kadang ada pula menyebut konteks. Secara terminology, paradigm berarti jalinan ide dasar berserta asumsi dengan variable-Variabel idenya.[5] Dan menurut Prof Liek paradigm adalah model yang dipakai oleh Imuwan dalam kegiatan ilmuwannya untuk menentukan jenis-jenis persoalan yang perlu digarap, dan dengan metode apa serta melalui prosedur yang bagaimana penggarapan itu harus dilakukan.
Dalam sisi lain Liek Wilardjo melihat paradigm Kuhn ini sebagai paradigm pandangan dunia yang mempengaruhi jalan pikiran dan prilaku ilmuwan dalam berolah ilmu. Konsep ini bersesesuaian dengan Ritzer yang memandang paradigm sebagai pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh sesuatu oleh cabang ilmu.

L. Kritik terhadap revolusi paradigma ilmu dari Kuhn.
Mengenai definisi paradigma ada yang menyatakan sebagai intelektual komitmen, yaitu suatu citra fundamental dari pokok permasalahan dari suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dipelajari, pernyataan–pernyataan apa yang seharusnya dikemukakan, bagaimana seharusnya suatu pernyataan dikemukakan dan kaidah – kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh (Ihalauw, 1985: 19).
Istilah paradigma menjadi dikenal setelah Thomas Kuhn memperkenalkan paradigma kerangka keyakinan (komitment intelek) yang terbatas pada kegiatan keilmuan. Dalam bukunya Structure of Scientific Revolution (Kuhn, 1962), Kuhn menekankan sifat revolusioner dari kemajuan ilmiah. Revolusi keilmuan dilakukan dengan membuang suatu struktur teori lama dan menggantikan dengan yang baru.
Sebenarnya Kuhn tidak memiliki konsep-konsep yang yang ketat dan konsisten dalam menerangkan arti, namun pada umumnya Kuhn mengartikan paradigma sebagai beberapa contoh praktek ilmiah aktual yang diterima , misalnya : teori, aplikasi, dan instrumentasi bersama-sama yang memberikan model-model dan menjadi sumber tradisi-tradisi koheren particular riset ilmiah (kuhn the structure) Model perubahan keilmuan yang dikemukan Kuhn, diawali oleh dominasi paradigma tertentu sehingga terjadilah akumulasi ilmu pengetahuan. Tahapan ini disebut normal science, pada masa ini aktivitas pemecahan masalah berjalan dengan lancar dibimbing oleh aturan – aturan paradigma tertentu. Ilmuan (pada masa normal science) tak perlu bersifat kritis karena pekerjaan tidak membutuhkan tantangan baru.
Tahapan selanjutnya adalah anomaly, pada saat terjadi penyimpangan – penyimpangan subtansial yang terjadi dilapangan yang secara empiris tidak disinari oleh kebenaran paradigma ilmiah yang sedang berlaku. Apabila kebenaran paradigma ilmu sulit dipertahankan terjadilah krisis keilmuan yang harus segera diikuti oleh revolusi keilmuan. Pada saat itu paradigma lama ditinggalkan untuk diganti oleh paradigma baru. Ciri dari paradigma Kuhn adalah mengajak para ilmuan untuk saling terbuka dalam sifat open-ended (yaitu bersedia menadah ilmu pengetahuan baru).

M. Terjadinya reorientasi “pemberontakan” terhadap paradigma–paradigma penelitian.
Perbedaan dalam paradigma ilmu pengetahuan terjadi ketika adanya perkembangan pemikiran Yunani. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang berdasar empirisme pasti berbeda dengan pengetahuan yang berrdasar pada rasionalisme serta positivisme, mexisme dll, karma masing-masing aliran ini mempunyai cara pandang sendiri tentang hakekat sesuatu serta memiliki ukuran-ukuran sendiri tentang hakekat kebenaran.menurut Ritzer (1980) perbedaan aliran filsafat yang dijadikan dasar berfikir oleh para ilmuan akan berakibat pada perbedaan paradigma yang dianut.
Selain itu suatu pendekatan atau metode ilmiah, juga tidak lepas dari kebaikan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian. karna itu untuk dapat memberi pertimbangan dan keputusan mana yang lebih baik atau lebih cocok menggunakan suatu pendekatan terlebih dahulu perlu perlu dipahami masing-masing pendekatan tersebut.
Dalam pertumbuhan ilmu pengetahuan, suatu teori yang dipandang sudah tidak baik dan dikalahkan oleh teori baru, maka teori yang ditumbangkan tersebut pasti tidak berlaku lagi. Dengan kata lain, jika suatu teori belum tumbang pasti memiliki keampuhan “Perjuangan”. Tumbuhnya penelitian kualitatif tidak dapat dikatakan ringan, Ketika beberapa ahli mencoba memperkenalkan jenis penelitian yang dimulai dari lapangan secara grounded, para peneliti kuantitatif yang sudah muncul terlebih dahulu menentangnya dengan keras.
Mereka berpendapat bahwa penelitian kualitatif yang mengumpulkan datanya dipandang tidak sistematis, sangat indifidual, kurang ilmiah dan sukar dilakukan pelacakan terhadap data yang terkumpul (karena tidak mungin mengulangi peristiwa yang sudah lampau) juga diragukan hasilnya.
Ketika para peneliti kualitatif telah berhasil meyakinkan prinsip-prinsip keilmiahan dari penelitiannya, terpaksa “tenggelam” sebentar karena kalah dalam publikasi. Namun, akhirnya secara berangsur-angsur nasib penelitian kualitatif semakin baik, dan sejak kira-kira tahun 1990 pendekatan kualitatif tersebut dapat diterima oleh masyarkat ilmiah.

N. Paradigma penelitian
Paradigma Kuantitatif dan Paradigma Kualitatif, Masalah kuantitatif dan kualitatif hingga kini masih menjadi perdebatan/meski para ilmuan pada bidang tertentu memandang bukanlah merupakan hal yang bersifat dikotomis melainkan merupakan suatu kontinu. Sekelompok ilmuan juga memandang bahwa metode manapun yang akan digunakan sebenarnya tergantung pada problematiknya.
Bila problematik memerlukan jawaban kualitatif maka metode yang digunakan harus kualitatif, demikian pula, bila problematik bersifat kuantitatif maka yang digunakan harus metode kauntitatif. Juga ada sekelompok ilmuan yang mengatakan bahwa kedua metode tersebut saling menunjang, dengan suatu harapan bahwa dengan cara begitulah penelitian akan dapat menyajikan hasil yang mantap dan jitu. Mengukur derajat kepercayaan sebuah penelitian kualitatif banyak perspektifnya, yang meliputi definisi dan prosedur.
Salah satu diantaranya, adalah yang mencari ekuivalennya yang paralel dengan tradisi penelitian kuantitatif yang mengacu pada validitas. Seperti, Goetz dan LeCompte (1984) mencari paralelnya validitas. Dan reliabilitas dengan penelitian survey dan eksperimen. Hal ini disebabkan banyaknya kritik para pakar penelitian kuantitativ yang meragukan validitas dan reliabilitas penelitian kualitatif.
Mereka mempertanyakan validitas penelitian eksperimental dalam penelitian-penelitian etnografis, terutama dalam aspek-aspek sejarah, maturasi, efek pengamatan, seleksi, regresi, kematian subjek selama proses penelitian (mortality), dan kesimpulan.
Juga dipertanyakan validitas eksternalnya yang akan mengurangi derajat komparabilitas dan transferabilitas penelitian tersebut.
Prespektif lain adalah yang meragukan pemakaian terminologi penelitian kuantitatif dalam penelitian kualitatif, yang dipandang sebagai memfasilitasi dan penerimaan penelitian kualitatif dalam dunia kuantitatif. Hal ini akan mengaburkan konsep-konsep prinsipil dalam penelitian kualitatif dan merupakan sikap yang defensive saja, karena bahasa penelitian kuantitatif tidak sama tidak edukat untuk menampung pikiran dan konsep penelitian kualitatif.
Karl r. Popper Pada bagian perkembangan ilmu pengetahuan sebagai produk berpikir, Karl R. Popper melontarkan sebuah teori tentang Falsifikasionisme, baginya kaum skeptis mungkin benar bahwa tidak ada ilmu pengetahuan yang benar.
Teori keilmuan dapat berkembang melalui uji keras dengan bentuk eksperimen dan observasi. Kalau salah (refutability) maka akan diganti oleh teori yang lebih baik, tetapi apabila benar maka teori itu telah di-corroboration (dikuatkan).
Dengan demikian tidak ada batas kebenaran mutlak (absolut) dari ilmu pengetahuan yang berlaku secara universal. Kalau teori bisa dikaji lewat hipotesis, dan hipotesis adalah falsifikasi (bisa salah atau benar), maka tida ada kebenaran yang universal.
Semua pendapat ilmiah dapat digugurkan, apabila tidak demikian dunia ini akan memiliki semua hal. Contoh: Semua teori akan mengandung kebenaran, karena berlaku untuk menerangkan setiap phenomena sosial yang tampak. Lincoln dan Guba menggunakan istilah-istilah alternative yang lebih sesuai dengan norma-norma naturalistik.
Misalnya, untuk menentukan derajat keterpercayaan penelitian, mereka menggunakan istilah-istilah seperti kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, konfirmabilitas, sebagai ekuivalen pihak penelitian naturalistic untuk validitas internal, reliabilitas, dan objektivitas. Dalam operasionalisasinya digunakan tenik perpanjangan waktu dilapangan, triangulasi, data sumber, dan metode, serta para investigator untuk mencapai kredibilitas.
Untuk menjamin bahwa hasil penelitian mampu dialihpahamkan antara peneliti dengan yang diteliti, maka penjelasan atau deskripsi harus panjang lebar, dan tebal (thick description). Sebagai pengganti reliabilitas, digunakan dependabilitas yang akan memungkinkan perubahan dan instabilitas.
Penelitian naturalistic/kualitatif akan lebih menilai data yang memiliki konfirmabilitas dari pada objektivitas, yang dicapai dengan mengaudit proses penelitian. Lebih jauh mengenai validitas, Eisner (1991, dalam Creswell, 1998) mengemukakan untuk mengganti validitas lebih baik didiskusikan kredibilitas penelitian. Ia mengemukakan standard yang dipakainya seperti dukungan structural, konsensusvalidasi, dan adekuasi referensial.
Dalam dukungan structural, peneliti menggunakan berbagai tipe data untuk mendukung atau menolak penafsiran. Ia memberikan ilustrasi tentang persamaan meneliti dengan pekerjaan seorang detektif, yang mengumpulkan sedikit demi sedikit alat bukti untuk membentuk ala keseluruhan. Pada tahap ini peneliti mencari tindakan dan perilaku yang berulan-ulang untuk menolak bukti atau penafsiran yang bertentangan.
Ia merekomendasikan kredibilitas yang ditunjukkan dengan bukti-bukti dukungan dengan kuat yang akan meyakinkan para penilai atau penguji. Validasi yang dicapai dengan konsensus, adalah kesepakatan diantara orang-orang yang kompeten bahwa deskripsi, penafsiran, evaluasi dan tema dari situasi pendidikan sudah benar. Referensi yang diberikan untuk adekuasinya sebuah penelitian, menurut Eisner, adalah tujuan dari sebuah kritik untuk menjelaskan pokok permasalahan, dan dengan demikian akan menghasilkan persepsi dan pengertian yang sensitive dan kompleks dari manusia dipihak pembaca, maupun pihak yang melakukan penelitian dalam hal terkait.
O. Etika ilmu, juga berlaku pada etika penelitian
Penelitian dan penulisan adalah suatu kegiatan (activitas) sedangkan etika menunjukkan sikap kepribadian peneliti dan ilmu menentukan disiplin yang menjadi ukuran ketetapan etikanya sendiri. Dalam “Ilustrated World Encylopedia” ditekankan bahwa etika mengandung ajaran mengenai apa yang dipandang benar atau salah dalam sikap seseorang dalam hubungan sosial sehari – hari.
Peranan sifat ke“ilmu”an di atas, ialah bahwa disiplin, sistem dan metode ilmulah yang menentukan salah atau benarnya sikap penelitian dan penulisan dalam kegiatan penelitian dan penulisan itu sendiri. Maka untuk mengetahui pengaruh yang menentukan itu, seharusnya digarap lebih dahulu beberapa pengertian dari bidang “filsafat ilmu”, karena dilapangan ilmu itulah kita jumpai hakikat ilmu, metode ilmu, sistem ilmu dan lain – lainnya yang bertalian dengan ilmu, dan nilai – nilai etis yang terkandung di dalam hakikat, sistem dan metode ilmu, yang selanjutnya akan mempengaruhi pola etika penelitian/penulisan. Secara sederhana dirumuskan, bahwa seorang Indonesia sebagai peneliti atau penulis selain tunduk pada nilai – nilai filsafat ilmu yang berlaku secara umum, juga tunduk pada nilai – nilai yang diserapnya dari ajaran pancasila. Maka jika di Indonesia hendak dikembangkan etika ilmu dalam penelitian dan penulisan, itu berarti bahwa etika yang akan membimbing si peneliti dan si penulis ialah etika ilmu yang berlaku universal yang diadaptasi sesuai dengan ajaran etis yang bersumber pada pandangan hidup bangsa Indonesia.
Satu bahan perbandingan secara universal telah berkembang pandangan filsafati yang mengatakan bahwa “knowledge is power” (pengetahuan adalah kekuasaan). Namun menurut pandangan fisafati dari pancasila secara aksiologi (yakni dari segi kegunaannya).
Untuk tujuan dan kegunaan apakah knowlodge yang berupa power itu, apakah untuk saling merubuhkan dan menghancurkan atau untuk membangun kesejahteraan sesama manusia. Maka sebenarnya tidak kurang adanya nilai – nilai etik yang akan membimbing sikap peneliti dan si penulis di Indonesia yang menganut Pancasila, yang di dalamnya tercakup ajaran yang mengenai kejujuran dan tanggung jawab susila penelitian dan penulisan ilmiah.
Maka tingkat etika penelitian dan penulisan di suatu kelompok sosial atau bangsa, akan menjadi ukuran sejauh mana kelompok sosial tersebut memahami nilai – nilai dan harkat ilmu dan keilmuan dan bagaimana mereka menghormati hak – hak dan otorita sesama peneliti, atau sesama penulis. Sikap ini tercemin dalam gaya penelitian dan penulisan mereka, bahkan akhirnya dapat dikatakan bahwa tingkat etika penelitian dan penulisan adalah termasuk salah satu ukuran tingkat peradapan manusia umumnya dan suatu bangsa khususnya.
Beberapa petujuk menurut filsafat ilmu Dalam filsafat ilmu dikenal beberapa prinsip yang mengandung petunjuk etis untuk penelitian dan penulisan.
Meskipun filsafat ilmu bukan suatu sumber ajaran sebagaimana agama, namun di dalamnya terdapat guidance dan nilai bimbing yang perlu ditaati oleh para peneliti dan penulis karena padanya terdapat segi – segi yang bertalian dengan tuntutan untuk saling menghargai antar sesama peneliti dan penulis sebagai sumber pengetahuan. Menurut sistem ilmu Seorang peneliti dan penulis yang ingin mengembangkan suatu pengetahuan yang diperolehnya dari suatu sumber, untuk kemudian akan melahirkan ilmu yang baru, lebih dahulu menjelajah ke suatu atau beberapa kumpulan pengalaman dan pengetahuan orang lain.
Baik melalui penelitian lapangan atau kepustakaan. Berarti tidak seorangpun yang mampu secara sendiri untuk tampil sebagai peneliti dan penulis apalagi sebagai ilmuan, atau untuk menampilkan sesuatu pandangan tanpa lebih dulu menjelajah pada hasil karya orang lain. Maka menjadi pertanyaan: sejauh mana ia bersifat jujur dan menghormati otorita dan hasil karya penelitian orang yang mendahuluinya itu, melalui sesuatu cara yang diperlihatkannya dalam penelitian atau tulisannya sendiri.
Apakah akan ia tampilkan pendapat, pandangan dan buah pikiran peneliti dan penulis terdahulu dan yang dijadikan bahan dasar atau premis untuk penelitian dan tulisan sendiri, atau secara hormat dan terus terang ia menyebut sumber itu dalam laporan penelitiaannya dan penulisannya. Secara terus terang, terbuka dan terhormat, selayaknya sumber – sumber itu disebut melalui sesuatu cara dalam teknis tulisan dan penelitian, namun yang terpenting disamping kejujuran ilmiah diatas adalah dari mana sumbernya akhirnya semuanya memperlihatkan pertautan dari ragam teori yang dipergunakan dalam analisisnya dan merangkainya kemudian menjadi pisau analisisnya sebelum pendapatnya menjadi teori baru bagi ilmuan lainnya.

P. Ragam Teori Dalam Ilmu Pengetahuan.

1. Teori Korespondensi
Teori korespondensi (Correspondence Theory of Truth) menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan/pendapat dengan objek yang dituju/dimaksud oleh pernyataan/pendapat tersebut.
Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, yang serasi dengan situasi aktual. Dengan demikian ada lima unsur yang perlu yaitu pernyataan (statement), persesuaian (agreement), situasi (situation), kenyataan (realitas) dan putusan (judgement). Kebenaran adalah fidelity to objective reality. Atau dengan bahasa latinnya: edaequatio intelectus et rei (kesesesuaian pikiran dengan kenyataan)
Teori ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya Plato, Aristoteles dan Moore. Dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina, Thomas Aquinas di abad skolastik, serta oleh Bertrand Russel pada abad Modern.Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespondensi ini.

2. Teori Koherensi
Teori koherensi (The Coherence Theory of Truth) menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar.
Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas petimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya.
Rumusan kebenaran adalah, truth is a systematic coherence, dan truth is consistency. Jika A = B dan B = C, maka A = C.
Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini.
Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus- rasionalis dan idealis. Teori ini sudah ada sejak pra Socrates, kemudian dikembangkan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel.
Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (justifikasi) benar dan tahan uji (testable). Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.



3. Teori Pragmatisme
Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia.
Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), dan akibat yang memuaskan (satisfactory consequence). Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak/tetap, kebenarannya tergantung pada kerja, manfaat dan akibatnya
Akibat/hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah:
1. Sesuai dengan keinginan dan tujuan
2. Sesuai dan teruji dengan suatu eksperimen
3. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).
Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari para filsup Amerika. Tokohnya adalah Charles S. Pierce (1839 – 1914) dan diikuti oleh William James dan John Dewey ( 1859 – 1952 ).

Q. Lima Tipe Teori dalam Paparan Analisis.
Type I: Analyzing
Tipe ini merupakan tipe paling dasar, menjelaskan “apa”, tanpa penjelasan sebab-akibat atau usaha untuk memprediksi. Pernyataan hubungan yang ada terbatas pada klasifikasi, komposisi, atau asosiatif, tanpa hubungan sebab-akibat yang eksplisit.
Contoh utama adalah teori mengenai framework, classification schema, atau taksonomi.Grounded theory juga termasuk tipe ini.

Type II: Explaining
Tipe ini menjelaskan “bagaimana” dan “kenapa” fenomena bisa terjadi, dan diformulasikan sedemikian rupa sehingga hipotesa tidak dijadikan perhatian utama. Tipe
ini dibagi menjadi 2, high-level (menyediakan penjelasan secara reciprocal) dan lowlevel
(menjelaskan kejadian menggunakan situasi yang ada)

Type III: Predicting
Tipe ini menjelaskan “apa yang akan terjadi” tetapi bukan “kenapa”. Contoh dari tipe ini
adalah Moore’s Law dan pendekatan algoritmik untuk mengestimasi biaya pembuatan
perangkat lunak.

Type IV: Explaining and Predicting
Tipe ini menjelaskan “apa”, “bagaimana”, “kenapa”, “kapan”, dan “apa yang akan terjadi”.

Type V: Design and Action

Tipe ini menjelaskan cara melakukan sesuatu.

Relationship among types
Teori analitik sebagai teori paling dasar diperlukan sebagai dasar pembuatan teoridengan tipe yang lain. Teori penjelasan dan teori perkiraan diperlukan untuk penghasilan teori dengan tipe penjelasan dan perkiraan (tipe 4) dan teori perancangan (tipe 5). Dan teori penjelasan dan perkiraan dan teori perancangan saling berkaitan satu sama lain.
R. Analogi, krisis yang ada di Indonesia.
Setelah memahami perdebatan filsafat keilmuan di atas maka pertanyaannya apakah saat ini Indonesia sedang mengalami “anomali” karena penelitian apapun hanya sebatas penelitian dan tak pernah diterapkan, akhirnya ilmu untuk ilmu bukan ilmu untuk membahagiakan manusia, sehingga krisis yang terjadi adalah belum dihargainya sebuah penelitian, kecuali penelitian itu berpihak kepada kepentingan selompok pemegang “kekuasaan” politik, ekonomi ataupun kepentingan sesaat.
Bangsa Indonesia mengalami banyak krisis yang dihadapi hal itu terjadi sampai saat ini, krisis di Indonesia merupakan sebuah lingkaran setan yang menyelimuti, semua sektor mendukung untuk menjadikan krisis yang ada di Indonesia ini. faktor yang menyebabkan krisis di Indonesia, mulai dari instansi pemerintah di tingkat desa sampai tingkat atas banyak terdapat penyimpangan dan ketidak jujuran, hal ini didukung pula oleh keadaan masyarakat yang tidak kondusif.
Secara tidak langsung hal ini berpengaruh terhadap semua sektor, antara lain pendidikan, ekonomi, perdagangan dan lain - lain. Krisis ini sebenarnya sudah lama ada tapi mulai nampak pada akhir tahun 1997 disaat itu masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah, kondisi masyarakat yang semakin hari tidak semakin baik, tetapi pemerintah disaat itu tidak cepat tanggap dengan keadaan itu. Sehingga ketidakpercayaan dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa serta masyarakat yang mengadakan aksi demonstrasi untuk menuntut pemerintah agar turun atau mundur dari kekuasaanya, itu semua sebagai tanggung jawab pemerintah karena kinerjanya dianggap sudah tidak mampu dan tidak becus dalam mengayomi, melindungi dan memakmurkan Negara tercinta ini.
Melihat hal ini, krisis moral dan spiritual adalah pangkal dan sumber dari krisis di segala bidang. hal ini dapat kita lihat tidak hanya di Indonesia saja, bahkan seluruh penjuru dunia banyak yang sedang mengalami krisis spiritual dan moral, walaupun kecerdasan intelektual juga disadari mengalami kemajuan pesat.
Akibatnya seiring kemajuan dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan yang tidak diimbangi oleh moral dan mental yang baik dari pemakainya maka, mau tidak mau pasti menghasilkan bom waktu yang tiap saat bisa meledak atau hanya tinggal menunggu waktu kehancuran suatu bangsa atau masyarakatnya.
Dan sebagai puncaknya pada 1999 mahasiswa serta masyarakat turun kejalan untuk mengeluarkan dan mengekspresikan keinginan mereka. Keadaan yang demikian akhirnya memaksa pemerintah untuk mundur saat itu juga.
Ketika pemerintahan telah mundur dari kekuasaannya krisis negeri ini tidak berhenti disitu saja, krisis kepecayaan ini mulai menular pada banyaknya investor asing yang takut untuk menanamkan modal.setelah itu muncullah krisis-krisis yang lain.
Yang menjadikan negeri ini semakin terpuruk. berikut ini krisis yang timbul setelah era Reformasi. Menelusuri rentetan panjang garis sebab akibab ini, dapat disimpulkan bahwa faktor pertama dan utama penyebab krisis ini adalah “pendidikan”, terutama pendidikan moral dan spiritual. Pendidikan moral dan spiritual yang buruk dan kurang bermutu merupakan awal dari munculnya sebuah krisis, sebab walaupun dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern sekalipun, bila moralnya rusak maka, tidak akan membawa bangsa dan Negara ini menjadi lebih baik, bahkan sebaliknya.
Hal ini dapat kita lihat dari kebangkrutan ekonomi Indonesia disebabkan karena kebanyakan penduduk berkecenderungan memperoleh kekayaan material sebanyak mungkin melalui jalan manapun. Adakalanya mereka melakukan lewat produksi yang sarat dengan persaingan baik secara individual maupun sosial.
Moralitas persaingan mendorong sistem ekonomi yang cenderung memonopoli barang – barang produksi mulai proses produksi sampai mekanisme pasar. Disamping itu mereka juga mengorbankan alam dengan sumber dayanya untuk di ambil kekayaanya tanpa memperdulikan sebab akibat yang akan di timbulkan dilain hari. Selain hal tersebut yang juga menjadi faktor krisis di Indonesia adalah Ketidak adilan Hukum.
Penegakan hukum dilaksanakan secara tidak adil. Mereka yang bermoral jujur justru tersungkur, dan mereka yang jahat justru selamat dan bahkan diangkat menjadi pejabat, dalam pelaksanaan penegakan hukum masih terkesan tebang pilih, siapa yang memiliki jabatan dan kekayaan akan memperoleh keadilan dan siapa yang tidak mempunyai Jabatan dan kekayaan walaupun dalam posisi benar sekalipun, akan sangat sulit untuk lari dari jeratan hukum. Salah dan benar dapat diperjual belikan.
Dengan demikian jika difalsifikasi faktualnya kondisi krisis Indonesia saat ini, karena regulasi negara masih terjebak kuatnya paradigma positivisme yang beragam rasionalisme logis bukan positivisme yang beragam rasionalisme kritis yang berbasis sinergisitas kecerdasan emosional spiritual sehingga hukum negara saat ini sebagian besar yang menyentuh kebutuhan dasar manusia, seperti kesehatan, pendidikan dan perekonomian dan pengelolaan sumber daya alam secara tersurat didalam regulasi (peraturan perundang-undangan) sebenarnya hanyalah lebih dominan endapan-endapan kepentingan kelompok tertentu yang berlindung dibalik klasula konstitusional ”dikuasai oleh negara” tetapi tanpa dipersandingkan secara selaras dan seimbang dengan klasula ”dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” pada pasal yang sama, yaitu pasal 33 ayat (3) UUD 1945 sehingga pendulumnya lebih banyak memakmurkan sekelompok orang tertentu tetapi masyarakat yang jumlahnya sebagian besar masih dibawah garis kemiskinan terabaikan dari merasakan penjabaran klasula ”dikuasi oleh Negara” dan ”dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”, bahkan masyarakat yang secara de fakto memiliki hak bersama yang namanya ”hak ulayat’ terhadap sumber daya alam di daerah sebagai keragaman daerah yang telah memberikan andil untuk bangsa ini terabaikan, bagaikan anak yang tak mengetahui sumber asal muasal keturunannya, karena orang tuanya tak mengakui keberadaan anaknya.
Apabila hukum negara dengan berbagai endapan kepentingan itu terus menerus mengiris kepentingan bersama masyarakat yang tetap berkomitmen melestarikan sumber daya alam untuk anak cucu kedepan, maka sebenarnya negara yang prinsipnya Bhinneka Tunggal Ika sesungguhnya sedang mengiris dirinya sendiri dan dikwatirkan Bhineka-bhinneka itu keluar dari keikaan, berarti Indonesia diambang krisis kenegaraan masihkah NKRI berbhinneka Tunggal Ika atau Ika didalam kebhinnekaan atau Ika Tunggal berbhinneka. Perbedaan dalam kesatuan atau kesatuan dalam perbedaan ?
Penulis mengamati, bahwa bernegara hukum saat ini terlihat dalam keteraturan tetapi sesungguhnya didalamnya yang sedang berlaku adalah ketidakaturan dalam ”keteraturan semu”, karena akibat sekelompok orang yang berlindung dibalik klasula konstitusional ”Dikuasai Oleh Negara” Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 hanya diimplementasikan ”setengah ayat”, sedangkan klasula konstitusional pada pasal yang sama ”dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” hanyalah wacana yang sering dikampanyekan tetapi belum pernah terwujudkan, sehingga selompok kepentingan yang berlindung dibalik regulasi negara bersepakat bagaimana menguras bumi pertiwi ini dengan cara berkolaborasi dengan kepentingan luar untuk memakmurkan sekelompok orang tertentu saja tidak peduli warisan leluhur terlanggar, maka sebenarnya yang terjadi kita sedang ”kemasukan masal” sebuah virus, yaitu paham materialisme, konsumerisme, kapitalisme ujungnya sekularisme, sedangkan nilai-nilai humanisme itu yang terumuskan, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain terabaikan, artinya mengapa sumber daya alam dikuras sedemikian rupa tetapi belum memberikan manfaat kepada sebesar-sebesarnya kemakmuran rakyat di daerah.
Menurut penulis jika ini terus menerus kondisi ini berlangsung di daerah dan tak ada perbaikan yang signifikan, penulis memprediksi kemungkinan besar sebentar lagi early warning Allah akan terwujud dibumi pertiwi ini : Dan Allah telah memberikan suatu perumpamaan(dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezkinya datangnya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya, karena itu mereka dimusnakan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim[6] atau apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu bangsa, maka dijadikanlah pemimpin-pemimpin mereka itu orang-orang yang bijaksana, dan dijadikan ulama-ulama(penulis: Ilmuwan /para ahli/ pemuka agama) mereka pemegang hukum dan peradilan, Allah jadikan harta kekayaan (aset-aset bangsa) berada ditangan orang-orang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki kehancuran suatu bangsa, maka Dia jadikan pemimpin-pemimpin mereka itu orang-orang yang dungu dan berahlak rendah, orang-orang yang culas dan curang menangani hukum dan peradilan, dan harta kekayaaan berada ditangan-tangan orang yang bakhil/kikir(fasik)[7] Katakanlah, "Dialah yang berkuasa untuk mengirim adzab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada mereka sebagian keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami[8] betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya diwaktu mereka berada di malam hari, atau diwaktu mereka beristirahat ditengah hari[9] oleh karena itu jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi kebanyakan mereka mendustakan (ayat-ayat) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya[10] dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah dinegeri itu supaya (menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhjadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya[11]maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasakan aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari diwaktu mereka sedang tidur ? atau apakah penduduk negeri –negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka diwaktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain ? dan apakah mereka belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kami Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi?[12]
Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi, maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada[13] maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi orang-orang yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa[14], negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu Kami ceritakan sebagian dan berita-beritanya kepadamu, dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (tidak) juga beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati orang-orang kafir.[15]
Sebenarnya Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata didalam dada orang-orang yang diberi Ilmu. Dan tidak ada yang mengikari ayat-ayat Kami kecuali orang yang zalim[16]ini adalah kitab yang Kami turunkan kepada penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran[17] dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?[18]Al-Qur'an ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertqwa[19]Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah pedoman, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini[20] Dan sekiranya Allah tiada menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak disebut nama Allah, sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (dien/Sistem/hukum)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa[21]
Padahal salah seorang non muslim yang bernama Prof Dr Lawrence Rosen, seorang guru besar Antropologi dan Ilmu Hukum pada universitas Colombia telah meluruskan kekeliruan persepsi dari rekan-rekan orientalis mereka selama ini tentang sistem Islam. Dalam bukunya yang best seller berjudul "The Justice Of Islam: Comparative Perspective on Islamic Law and Society (diterbitkan oleh Oxford University Press Tahun 2000 antara lain Profesor Dr .Lawrence Rosen menuliskan: "Satu dari lima penduduk dunia adalah orang yang seyogianya tunduk dan patuh kepada syariat Islam, tetapi stereotip yang masih menyebar adalah persepsi yang salah tentang syariat Islam itu, yang seolah-olah hanya menonjolkan betapa kaku dan ganasnya hukum Islam itu[22]
Dinegara yang berdasarkan Pancasila dengan Lambang Negara Rajawali Garuda Pancasila yang bersemboyan bhinneka tunggal Ika ini semua sistem hukum boleh berkembang hukum adatnya, hukum Islamnya, hukum baratnya yang sumbernya pada proposisi ilahiah, karena Pancasila adalah selaras dengan hukum Islam tanpa harus membuat negara ini negara Islam, tetapi semua penjabaran Pancasila diselaraskan dengan prinsip-prinsip hukum Islam dan Quran bukan hanya untuk Islam dan Dunia bukan hanya untuk Islam, tetapi Quran dan Islam untuk dunia, karena Islam merindukan perdamaian dan keadilan yang sejati bersama dengan yang lain, tak KU utus kamu Muhammad SAW kecuali hanya menyempurnakan akhlak manusia bukankah selaras pula dengan proposisi Allah sebelumnya “tak KU utus kamu Isa Al Masih ke bumi kecuali untuk menebarkan kasih sayang diantara manusia”. (Yohanes 17 ayat 1 s/d 19)
Hari ini Pancasila sedang berthawaf di bumi Indonesia dan Sila kesatunya Ketuhanan Yang Maha Esa tetap menyinari keempat sila lainnya yang tak pernah redup yang meredupkan adalah manusia-manusia yang telah mengingkari keberadaan Tuhan dalam qalbunya sehingga mereka dengan rasio akalnya menghancurkan sila kedua, sila ketiga dan sila keempat dan sila kelima, tetapi mereka tidak bisa menghancurkan sila pertama, karena UUD 1945 pun menjaminnya pada Pasal 29 ayat (1) Negara berdasar atas KETUHANAN YANG MAHA ESA, walaupun negara ini menegaskan, bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum (pasal 1 ayat 3), tetapi negara hukum itu berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan tersimbolisasikan pada Perisai tengah Lambang Negara RI dengan Nur Cahaya berbentuk Bintang bersegi Lima, perisai besar boleh hancur akibat kerakusan manusia, tetapi mereka tak bisa menghancurkan perisai kecil ditengah Perisai Pancasila karena Nur Cahaya itu tetap bersinar, karena Dia Yang Maha Bercahaya di atas cahaya, itulah Paradigma Pancasila Berthawaf (Pasal 48 UU No 24 Tahun 2009) dan selaras dengan rancangan Lambang Negara yang dirancang oleh Sultan Hamid II 1950 yang bentuknya seperti sekarang ini, yaitu Rajawali Garuda Pancasila yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang sejarahnya ditenggelamkan oleh bangsanya sendiri, karena kepentingan politik sesaat hanya karena Sultan Hamid II mencetuskan Federalisme yang versi sekarang ini namanya otonomi daerah dan masihkah ilmuwan Indonesia berdebat masalah kuantitatif dan kualitatif dan deduktif dan induktif, bukan keduanya tak terpisahkan tetapi terbedakan hanya manusia yang cerdas ketika mereka mampu mensinergikan ayat-ayat kauliyah (tertulis) dengan ayat-ayat kauniyah (tak tertulis) baik yang tersebar dialam raya maupun di dalam diri manusia (QS Al Fuhshilat 41 ayat 53), karena keduanya saling berpasangan dan berkorelasi membentuk pola itulah sunatullah/hukum alam, masihkah belenggu akal pikiran manusia keluar dari kotak hitam akal manusia dan hanya berkiblat kepada sesama manusia atau berkiblat kepada yang menciptakan manusia, jika didalam dunia usaha saat ini sudah banyak tumbuh “sufi-sufi corporate” mengapa didalam dunia akademis tak tumbuh “sufi-sufi akademis” ? Mari bercermin diri dengan menanyakan pada diri kita, siapakah saya, untuk apa saya dilahirkan kedunia, dan mau kemana setelah meninggalkan dunia ini ? Ya Allah jangan engkau cabut cintaku dari Cintaku kepadamu ya Allah dan jangan engkau cabut ilmuku karena sesungguhnya hanya engkaulah pemilik segala ilmu yang engkau pernah ajarkan kepada nenek moyang kami Adam ketika di surga-Mu dan matikan aku dalam keadaan husnul khotimah setelah engkau curahkan keilmuan-Mu sesuai yang diporsikan untukku dan dikehendaki oleh-Mu, karena engkaulah pemilik segala ilmu, bukan mataku yang buta, buka telingaku yang tak dapat mendengar, tetapi hatiku yang belum terkoneksi dengan Arsy-MU, untuk itu bukakan qalbuku untuk meraih mafirah ilmu-Mu dari wasillah/perantara siapapun selama wasilah itu dikehendakimu oleh-MU, ya Malaikat Jibril sampaikan doaku kepada Allah SWT karena aku tak pantas memohon doa langsung kepadamu Ya Allah, karena belum sebersih dan sepatuh seperti malaikatmu ya Allah, wahai para Malaikatnya ALLAH sampai harapanku kepada Allah SWT, karena engkau para malaikat selalu patuh dan bertasbih di arsymu Ya Allah, karena kami yakin pada diri manusia ada malaikat yang selalu menjaga didepan dibelakang atas perintahmu Ya Allah (QS Ar Radu (13) ayat 11) dan hanya istiqomah kepadamu Ya Allah maka engkau akan kirim para malaikat-Mu kepada kami dan mengabulkan segala permintaan manusia, karena atas perintahmu Ya Allah para malaikat mengatur segala urusan (QS Al Fuhsilat (41) ayat 30-31)


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bangunan Teori. Agus Salim. 2006. Yogyakarta: Tiara Wacana
Bahaya Indonesia menuju keruntuhan, Willayuddin A.R. Dani, Abu Hanifah Publising, 2007,
Filsafat Ilmu dan Penelitian. M Solly Lubis SH. 1994. Bandung: Mandar Maju.
Filsafat Pendidikan. Suparlan Suhartono. 2006. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Pengantar Filsafat Ilmu, The Liang Gie. 2004. yogyakarta: liberty
Prosedur Penelitian, Suharsimi Arikunto.2002. Jakarta: Rineka Cipta
Paradigma Baru Pendidikan Nasional, H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed.2004. Jakarta, PT. Rineka Cipta.
Pengantar Filsafat, Burhanuddin Salam.2003. Jakarta: Bumi Aksara.
Hukum Sebagai Sistem, Lili Rasjidi dan I.B Wyasa Putra: 1993, Rosdakarya, Bandung .
Paradigma Manusia Surya Membongkar mitos Parakhialitas Sumber Daya Manusia, Zumri Bestado Sjamsuar,2003, Yayasan Insan Cita Kal-Bar
Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma, George Ritzer; 1980.,
Semiotika Hukum Pancasila, Turiman, 2010, FH UNTAN.
[1] Lihat Mustopadidjaya; 1999., Paradigma-paradigma Pembangunan Administrasi Negara dan Manajemen Pembangunan, dalam LAN RI, hlm. 78.
[2] Mastermann dalam George Ritzer; 1980., Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda hlm 5-7 dalam Lili Rasjidi dan I.B Wyasa Putra: 1993., Hukum Sebagai Sistem, RosdaKarya, Bandung. hlm. 70
[3] Ritzer, ibid hlm.7.
[4] Ibid. hlm. 9.
[5] Zumri Bestado Sjamsuar,2003., Paradigma Manusia Surya Membongkar mitos Parakhialitas Sumber Daya Manusia, Yayasan Insan Cita Kal-Bar, hlm 28
[6] Qura'an Surah An Nahl (16) ayat 112-113
[7] Hadist Rasulullah Muhammad SAW riwayat HR Ad Dailami dalam Willayuddin A.R. Dani, Bahaya Indonesia menuju keruntuhan, Abu Hanifah Publising, 2007, halaman 247
[8] Qur'an Surah Al Anam (6) ayat 65
[9] Qur'an Surah Al Araaf (7) ayat 4
[10] Qur'an Surah Al Araaf (7) ayat 96
[11] Qur'an Surah Al Israa(17) ayat 16
[12] Qur'an Surah Al Araaf (7) ayat 97-98
[13] Qur'an Surah Al Hajj (22) ayat 45-46
[14] Qur'an Surah Al Baqarah (2) ayat 66
[15] Qur'an Surah Al Araaf (7) ayat 101
[16] Qur'an Surah Al Ankabuut (29) ayat 49
[17] Qur'an Surah Shaad (38) ayat 29
[18] Qur'an Surah Al Qamar (54) ayat 17,22, 32,40
[19] Qur'an Surah Al Imran (3) ayat 138
[20] Qur'an Surah Al Jaatsiyah (45) ayat 20
[21] Qur'an Surah Al Hajj (20) ayat 40
[22] Ahmad Ali seorang Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin) "Gara-Gara "Syariat" Belanda: Terkorup di Dunia, tapi "Tak ada Koruptornya," Majalah Suara Hidayatullah, Edisi Khusus 01/XV.Mei 2002/Shafar Rabiul Awal 1423, H, dalam Willayuddin A.R. Dani, Bahaya Indonesia menuju keruntuhan, Abu Hanifah Publising, 2007, halaman 249

Penulis : Turiman Fachturahman Nur (Mahasiswa S3 KPK UNDIP -UNTAN)

0 comments: